Search This Blog

Friday, January 30, 2026

Nilai E

9:39 PM 0 Comments


Melanjutkan cerita perjalanan gue menempuh study lanjut pascasarjana alias S2 Teknik Informatika.

Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, ada gak sih kesulitan selama menempuh kuliah S2?

Jawabannya sudah pasti, ada, banyak, tak terbayangkan!

Bukan bermaksud menakut-nakuti atau menjadi dramatis. Tapi, memangnya ada perjalanan hidup yang tanpa kesulitan?

Bukan berarti karena udah pernah kuliah S1 (yang mana adalah Pendidikan tinggi juga sih yaaa) trus S2 jadi terasa ringan dan mudah. No No..

Salah satu kesulitan yang paling memorable dalam perjalanan study gue adalah...

Dapat nilai E.

Dapat nilai C di satu mata kuliah mungkin hal biasa, tapi buat orang ambis yang merasa sudah berusaha semaksimal mungkin, nilai C juga bisa bikin depresi.

Tapi yang gue alami bukan nilai C, melainkan nilai E! 

Kenapa gue bandingin nilai C dan E?

Jujur, dosen di mata kuliah ini memang unik, aneh bin Ajaib.

Satu kelas, literally satu kelas (kecuali beberapa mahasiswa cowo menurut desas desus, dapat nilai B), selebihnya harus berpuas diri dengan nilai C.

Tapi gue, E ? What?!

Gue adalah orang yang terbiasa memendam perasaan, mungkin sifat bawaan, pengaruh lingkungan, atau karena emang gue milenial aja sih, yang terbiasa ditabok sama boomer kalau speak up, dianggep gak sopan. 

Punten, izin, gak semua boomer kok, ehe ehe...

Tapi kejadian ini sungguh gak bisa dipendam dan didiamkan begitu saja. Meskipun satu kelas juga emang berencana ngulang mata kuliah ini bersama, dan gue juga bisa ngulang sih untuk memperbaiki nilai.

Tapi energi kota Medan yang vibesnya "Ramaikan aja dulu wak, perkara salah benar belakangan!" menggugah gue!

Dengan berbekal doa, gue memberanikan diri pagi-pagi mendatangi ruangan dosen tersebut. Gue gak tau ya dosen ini emang lagi badmood pagi-pagi atau memang sifatnya demikian. Waktu gue berpapasan dengan sang Dosen di Lobby sebelum masuk ke ruangannya, beliau ini udah langsung bintang 1 alias tidak ramah.

"Selamat pagi, Ibu, Maaf mengganggu waktunya, apa berkenan untuk saya berdiskusi dengan ibu?"

Jawabannya?

Lupa, gue bersyukur gue lupa, gue bersyukur otak gue mudah melupakan hal-hal yang menyakitkan, intinya dia mengizinkan gue masuk ruangan, meskipun responnya kurang menyenangkan, seolah gue mengganggu pagi nya.

Sebenernya di momen itu gue pengen nyerah aja, 

"Gak jadi aja apa yak?"

Tapi udah kepalang tanggung beb, maju terus pantang mundur.

Akhirnya gue memutuskan masuk ke ruangan beliau, itupun terdengar suara tidak ramah dari beliau ke staf-staf disekitarnya, bikin gue makin ragu buat masuk.

Tapi, kapan lagi?

Dalam nama Yesus...

Setelah gue masuk dan mengutarakan maksud kedatangan gue serta menanyakan apa ada kekurangan gue dalam mengerjakan tugas atau ujian sehingga gue mendapatkan nilai E? 

Mengingat gue hampir selalu hadir di kelas beliau dan selalu mengerjakan tugas dan ujian.

Usut punya usut ternyata Ketua Kelas gue lupa mengirimkan Ujian gue ke email beliau, Ketua kelas bilang teman yang gue titipin ujian lupa mengirim ke dia. Intinya ribet!

Tapi karena gue punya bukti di email bahwa gue udah mengerjakan dan mengirimkan ke teman dan ketua kelas, gue mencoba menjelaskan ke beliau.

Responnya Ajaib!

Gue gak akan lupa kalimat beliau, meskipun sekarang jadinya lucu sih...

"Memangnya saya sinterklas, bisa ubah nilai kamu..."

Tentu kalimat itu juga disertai kalimat-kalimat tantrum lainnya.

Yang gue gak ngerti, kenapa sinterklas? Kenapa gak penyihir? soalnya dia lebih mirip penyihir daripada sinterklas (Eh!).

Gue sempet mikir apa karena agama gue? Berbeda dengan dia yang mayoritas, jadi dia pake diksi "sinterklas"

Yasudahlah.

Setelah kejadian itu, jelas gue menangis, marah, sedih, jengkel, pengen nampol tapi masih punya kewarasan haha.

Tapi,

Satu momen juga yang gue gak akan lupa.

Waktu gue ngulang kelas dia, di suatu kesempatan di ruang kelas dia tanya (di telinga gue terdengar cukup arogan) ke para mahasiswa yang hadir,

"Siapa yang sudah mulai mengerjakan thesis?"

Dari sedikit mahasiswa yang hadir, gue salah satu yang angkat tangan.

Mungkin dia gak percaya, jadi dia tanya "Udah sampai mana kamu?"

Dengan bangga gue menjawab "Sudah selesai Seminar Proposal, bu"

Cukup kaget, dia tanya lagi "Siapa pembimbingnya?"

Dalam hati gue,

Yes, gue seneng dia nanya ini! Setelah gue sebut nama dosen Pembimbing gue, beliau terdiam.

Kenapa? Dosen Pembimbing gue terkenal berintegritas dan gak gampangan. Jadi, gue dapet kredit dari situ, artinya proses pengerjaan thesis gue gak kaleng-kaleng bro!

Dari kejadian itu gue belajar,

Menurut gue kondisi rendah itu tidak ada, direndahkan orang iya, tapi itu adalah sudut pandang orang tersebut bukan?

Dia merendahkan kita dengan alasan apapun artinya dia menganggap kita rendah.

Tapi sesungguhnya, posisi rendah itu sudut pandang siapa?

Dia atau kita, atau siapa lagi?

Jika orang tersebut menganggap kita rendah, apakah itu menjadikan fakta bahwa kita rendah? 

Apakah hanya karena satu atau dua orang yang merendahkan kita maka otomatis kita adalah orang yang rendah?

Apakah sebuah fakta diatur oleh orang lain?

Posisi kita bukan orang yang atur, kita rendah atau tidak adalah subyektif, bukan fakta.

Kalau orang lain menganggap gue rendah, bukankah itu urusan dia, tapi menurut gue, gue gak rendah, gue setara, bahkan kalau gue menganggap gue lebih dari dia, itu adalah sudut pandang gue, dan itu adalah dunia yang gue ciptakan.

Menurut gue, siapa diri kita sesungguhnya bukan diatur pandangan dan sikap orang lain, tapi bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Menurut gue sih gitu.

Gimana menurut kalian?

See you on the Next Post!

Wednesday, January 28, 2026

Belajar Menerima

9:38 PM 0 Comments


Hai Teman-teman!

Apa kabar?

Menemani momen sebelum tidur kalian, gue mau melanjutkan cerita gue tentang perjalanan gue menempuh S2.

Kalau di postingan yang lalu, gue cerita gimana kegagalan saat mengikuti ujian masuk S2 di salah satu kampus negeri di Semarang, dan sedikit background gue untuk menemukan "Why".

Kali ini ceritanya gimana gue akhirnya keterima kuliah S2.

Tahun 2016, keinginan buat melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi masih ada, dan kali ini lebih matang. 

Kenapa? Karena akhirnya gue sudah menemukan "Why" gue.

Proses mendaftar nggak mudah, karena kampus tujuan gue berada jauh dari tempat tinggal gue saat itu.

Gue ada di Jawa dan kampus tujuan gue di Sumatera, gue mendaftar lewat website kampus tersebut, tapi berkas-berkas yang diperlukan harus dikirim lewat pos, lebih tepatnya gue titipkan ke adek gue yang ada disana untuk dianter ke kampus tujuan gue, karena di tahun itu, dunia per online an belum seperti sekarang ya, guys! Itu adalah dunia sebelum covid menyerang.

Setelah semua berkas beres, saat ujian masuk pun tiba.

Persiapan gue masih sama, tapi kali ini entah kenapa perasaan gue lebih tenang, kayak ngerasa yakin aja gitu.

Guepun pindah ke kota Medan. Meninggalkan kehidupan gue di Jawa, mengejar impian. 

Di Medan cuma ada adek gue dan om tante gue. Kesana bener-bener cuma buat kuliah, kerjaan ditinggal. Kuliah tanpa beasiswa, murni dibayarin tabungan sendiri dan orangtua.

Malam sebelum berangkat ujian, gue berdoa.

"Tuhan, kali ini aku sudah menemukan why ku, Tuhan tahu kan?

Tuhan, jika memang ini waktunya dan jalannya, aku cuma minta 1 aja, berkati perjalanan S2 ku ini supaya lulus tepat Waktu.

Tuhan, Engkau Maha Tau segalanya, jika memang menurutMu aku gak sanggup menyelesaikan ini, biarlah ujian penerimaan besok Engkau gagalkan aku."

Sebuah doa yang cukup nekat tapi tanpa paksaan. Tanpa ekspektasi. Sepenuhnya menyerahkan.

Keesokan harinya,

Ujian pun tiba, guepun berangkat ke Auditorium kampus tersebut untuk mengikuti Ujian tertulis TPA dan Bahasa Inggris. 

Luar biasa, setiba disana gue gak boleh masuk karena kartu ujian tidak ada. Ternyata adek gue lupa memberikan kartu ujian yang dia terima waktu mendaftarkan gue. Dalam hati :

"Oke, Tuhan jawab doa gue, emang gue gak boleh kuliah lagi" Pesimis.

Tapi entah kenapa, ada bagian dari diri gue merasa sangat tenang, seolah ini bukan hal besar.

Setelah ratusan telpon ke adek gue, semua orang (orantua dan om tante) nelponin dia yang lagi asik tidur sampe siang.

Gue memberanikan diri pergi ke penjaga di pintu masuk ruangan auditorium, izin ke penjaganya, menjelaskan dengan tenang apa yang terjadi dan menyerahkan berkas yang gue punya, sebagai bukti gue calon mahasiswa meskipun gue gak punya kartu ujian.

Ajaib!

Gue diizinkan masuk dengan rangkaian nasehat yang gue balas dengan senyum dan ucapan terimakasih.

Setelah ujian tertulis, gue harus pindah ke Gedung Fakultas gue untuk mengikuti ujian wawancara.

Dalam hati gue "Oke, gue siap menjawab semua pertanyaan Profesornya, gue yakin bisa!"

Ternyata!

Ujian wawancaranya tidak ada, gue hanya perlu menuliskan essay alasan dan motivasi gue untuk kuliah S2 disini.

Semua rangkaian ujian masuk sudah gue jalani, saatnya menerima hasil pengumuman kelulusan.

Dan guepun DITERIMA!

Gue bersyukur, kali ini rasa syukur gue ditambah dengan keyakinan.

Gue yakin perjalanan kuliah S2 ini akan bisa gue lalui dengan baik.

Mungkin gak lancar, tapi selesai sesuai janji Tuhan.

Pengaturan Tuhan atas proses yang gue lalui gue anggap sebagai jawaban atas doa gue malam sebelum ujian.

Gue belajar, kalau memang waktunya, kalau memang milik kita, kalau memang momentumnya

semua akan berjalan ke arah kita dengan effortless.

Tapi kalau belum waktunya, bukan milik kita, bukan momen kita

Berusaha mengontrol dan ngotot hanya akan menguras energi dan tidak menghasilkan apapun kecuali kekecewaan.

Kekecewaan lahir dari memaksakan sesuatu yang bukan milik kita

Kekecewaan lahir dari berharap akan sesuatu yang bukan Waktu dan momen kita.

Menurut gue, selain menemukan WHY dalam setiap keputusan atau Tindakan yang mau kita ambil, kita juga perlu belajar menerima semua pengaturan Tuhan dalam hidup kita dengan sederhana.

Sesederhana "Oh Belum waktunya, Ah Ini waktunya, Terimakasih Tuhan,"

See you on the next post!^^


Tuesday, January 27, 2026

Jangan Ambil Keputusan Apapun Sebelum Baca ini !

9:17 PM 0 Comments




Suatu hari di tahun 2014, gue mendapatkan sebuah dorongan dari dalam diri untuk melanjutkan Pendidikan gue ke jenjang yang lebih tinggi, pascasarjana, alias Magister, alias Master, atau banyak orang bilang S2.

Awalnya gue memutuskan untuk S2 karena gue kepengen aja, untuk urusan jurusanpun gue engga jelas, apa ya? Yang penting S2 deh! haha, sungguh sangat impulsif, khas anak usia 20an. Gue mendaftar dan mengambil jurusan Magister Sistem Informasi di sebuah kampus negeri di kota Semarang. Kenapa ambil jurusan itu? Kata nyokap biar nyambung aja sama jurusan S1 nya! Oke baik.

Singkat cerita, gue mengikuti ujian tertulis dan wawancara di kampus tersebut. Dengan keyakinan dan semangat belajar yang tinggi, dan gue juga sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian, maka guepun melaksanakan ujian di kampus tersebut. Gue udah lupa ujiannya tertulisnya apa, tapi yang paling gue inget adalah tes wawancaranya.

Suatu siang di musim kemarau di kota Semarang yang panas, gue memasuki ruangan wawancara, menurut jadwal, gue akan diwawancara oleh seorang Profesor, bapak-bapak. Pertanyaan demi pertanyaan gue jawab dengan percaya diri, sampai ada satu pertanyaan yang membuat gue susah menjawab, bahkan membuat gue merenung beberapa hari setelah wawancara itu usai. Mungkin, karena pertanyaan itu tidak bisa gue jawab dengan yakin, makanya gue gak keterima S2 di kampus tersebut. Mungkin...

Mau tau apa pertanyaannya?

Komen dulu dong! hahaha, emangnya platform sebelah!

Oke, pertanyaan yang membuat gue susah menjawab dan membuat gue cukup lama merenung, dan pada akhirnya menjadi sebuah terobosan besar buat gue untuk mulai bertransformasi (cailah...) adalah...

Apa alasan anda kuliah lagi? 

Atau kalau pake Bahasa lebih singkat 

"Kenapa kamu kuliah lagi?", 

"Kenapa kamu ambil S2?"

Guys, sebelum kalian ngejudge gue dengan bilang "Yailah, jawab apa aja kek, jawab yang diplomatis dan formal aja, yang penting jawabannya bagus!" 

Gue akan menjelaskan,

sesungguhnya gue juga menjawab dengan pola pikir yang demikian. Jawaban gue ya template jawaban diplomatis. Tapi, Profesor itu kembali mempertegas pertanyaannya.

"Iya, alasan konkretnya apa?" 

Dengan senyuman ramah namun menusuk ke relung hati, beliau berkata,

"Alasan sesederhana apapun harus dapat dijelaskan, misalnya karena pengen nambah gelar di belakang nama, karena pengen naik jabatan di kerjaan, karena apa?"

Pertanyaan yang kelihatannya sederhana, namun menyentuh hati gue.

Pulang dari situ, gue bertekad mencari "Why" gue.

Ada sebuah buku yang lagi popular, judulnya Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action karya Simon Sinek, yang menjelaskan pentingnya memiliki tujuan atau alasan yang kuat di balik setiap tindakan.

Sebagai seorang anak muda berusia 20an, gue gak punya WHY, yang gue punya adalah gairah, semangat, tekad, keinginan, dan mungkin impian. Namun, itu semua tidak cukup.

Bukan berarti itu gak berguna, tapi tidak cukup untuk bisa membuat seorang manusia bertahan dan tetap konsisten dalam menjalani semua keputusan yang dia ambil. Dalam hal ini adalah keputusan gue untuk kuliah lagi.

Tanpa Why, mungkin kuliah gue hanya karena di momen itu gue lagi semangat pengen belajar hal baru, gue kepengen ketemu banyak orang baru, bahkan mungkin gue bingung mau kemana, kerja apa, melakukan apa maka gue kepengen membuat diri gue "produktif elegan" dengan menjadi mahasiswa S2, hahaha.

Intinya, Tuhan seperti mengingatkan gue "Tanpa Why, keputusan kamu untuk S2 adalah keputusan yang sangat rapuh dan tidak solid, dan itu tidak cukup untuk membuat kamu bertahan mengawali dan menyelesaikan rangkaian perjalanan S2 ini dengan baik."

Gue bersyukur, meskipun saat itu gue juga gak bener-bener tahu alasan gue gak keterima karena nilai ujian tertulis gue yang kurang atau karena tes wawancaranya, tapi gue bersyukur, karena gue masih dikasi Waktu dan kesempatan untuk menemukan Why gue.

Dan setelah gue menemukannya, gue akan cerita lagi perjalanan S2 gue di kota lain sampai akhirnya bisa lulus tepat Waktu.

So, buat teman-teman yang sedang berencana melanjutkan jenjang Pendidikan atau bahkan punya rencana atau mau mengambil sebuah keputusan.

Pastikan kamu punya Why nya ya!

See you on another post ^^