Tanggal 13 Oktober 2026, papa meninggal dunia. Kalau mau di cocoklog, tanggal 31 Oktober 1990, aku terlahir ke dunia. Bagaimana perasaanku? Sedih, hampa, namun ada sedikit rasa bangga. Kenapa ada rasa bangga? Papa meninggal bukan karena sakit, tapi karena membantu orang lain.
Aku memutuskan menulis catatan perjalananku mendampingi kepergian papa di kampung halamannya. alasannya karena aku merasa kisah-kisah dan cerita yang aku alami di sana menarik dan menyenangkan untuk di bahas. Satu sisi aku ingin mencoba mengabadikan perjalananku mengenal sisi lain papa di kampungnya. Lalu aku juga sedang berusaha mencerna perasaan dan pikiran-pikirannya sepeninggal papa.
Aku menulis ini persis saat aku sudah kembali ke Jawa, setelah selama 5 hari berada di kampung papa untuk mengantarkan kepergiannya dari rumah sementara di bumi menuju rumah abadinya di firdaus. Perasaanku saat ini hampa, sudah menangis berhari-hari dan seringkali di sela-sela isak tangis ada pikiran-pikiran yang dituduhkan iblis kepadaku. Ah, padahal banyak juga kisah-kisah menarik di sana, namun pikiranku mengulang semua memori tentang papa, yang membuat aku merasa tertuduh. Tertuduh karena belum melakukan yang terbaik.
Pada hari setelah papa dikuburkan, malam itu pikiranku (yang aku tahu pikiran ini berasal dari iblis) menuduh aku belum melakukan yang terbaik sebagai anak perempuan tertua. Di sela-sela tuduhna itu, aku bersyukur Tuhan memberikan satu terang.
"Aku dan Papa sudah melakukan yang terbaik yang kami tahu di waktu itu, sudah melakukan yang terbaik di fase itu, sudah melakukan yang terbaik di momen itu, sudah melakukan yang terbaik di usia itu untuk satu sama lain. Jadi, kalau saat ini ada pemikiran bahwa seharusnya "di momen itu aku melakukan ini dan papa melakukan itu" "seharusnya di momen itu aku tidak melakukan ini dan melakukannya itu" maka semua What IF sesungguhnya adalah semua ilusi kosong yang hanya membuat aku kehilangan akal sehat"
Setiap orang punya kesalahan yang bahkan tidak mereka sadari, melakukan kesalahan yang mungkin sudah mereka coba perbaiki semampu dan sepengetahuan mereka saat itu, namun manusia bukankah tidak sempurna? Kita hanyalah seorang anak, seorang putri, seorang ayah, seorang ibu, yang membawa trauma masih-masing ke dalam hubungan kita, namun itu tidak membuat kita menjadi orang jahat yang harus terus membiarkan pikiran kita di dakwa iblis.
Sebenarnya setiap momen negatif yang dituduhkan iblis, di dunia nyata sudah ada penyelesaiannya, namun iblis menciptakan ilusi seolah apa yang aku lakukan di dunia nyata tidak pernah cukup untuk dia yang aku kasihi. Tapi Tuhan tahu, bahwa aku mengasihi papa dan papa megasihi aku. Kami sudah menciptkan momen nyata di kehidupan kami masing-masing. Kami sudah menciptakan momen nyata yang riil, yang bahagia, yang saat itu adlah yang terbaik yang bisa kami berikan untuk satu sama lain.
Pada akhirnya, ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, kita harus tetap melanjutkan hidup. Namun hidup seperti apa yang kita pilih? hidup yang dipenuhi ilusi bahwa "aku belum melakukan yang terbaik" atau hidup yang setiap hari mengenang semua cerita, momen, dan hal-hal indah menyenangkan yang sudah aku berikan dan sudah aku terima dari ayah. Aku harap hidupku kedepan selalu memilih yang kedua.
Terimakasih ayah, karena kehidupan yang ayah jalani dan ayah pilih serta ayah akhiri adalah kehidupan yang tidak pernah hanya untuk dirimu sendiri tapi untuk oranglain juga. Aku belajar hal itu.
Next aku mau cerita bagaimana indahnya akhr hidup yang ayah pilih untuk menutup usiaya.