Search This Blog

Monday, December 18, 2017

Bolu Meranti, Icon Bolu Medan

3:33 PM 0 Comments

Gambar diambil dari internet

Hai Netijen!
Kesempatan kali ini gue akan menulis tentang sesuatu yang enak,hehe. Menarik kan ?
Jadi beberapa bulan ini gue kan membuka sebuah bisnis yang lumayan menjanjikan, tapi belum begitu menguntungkan untuk saat ini, (apaan sih, Len..)
Bisnis gue ini namanya bisnis Jasa Titip Online, apa aja yang dititip? Sebenarnya sih semua jenis barang yang ada di Medan, tapi berhubung yang di Medan itu kuliner lebih menarik, alhasil banyakan yang nitip ya nitipnya makanan. Kapan-kapan gue bakalan bahas juga tip dan trik startup bisnis jasa titip ini ya. Dan bagi kalian yang kepengen nitip juga, bisa follow IG gue di @titiplahh (sekalian promosi, hehe), inget ya, “h” nya dua! wkwk

Well, pembahasan kali ini adalah makanan! Yay!
Seperti yang gue bahas diatas ya, Medan itu yang lumayan terkenal adalah kulinernya, salah satu yang pasti lu semua juga pernah denger adalah Bolu Meranti. Apa yang ada di pikiran lu waktu membaca dua kata ini, BOLU MERANTI?
Ada yang langsung ngiler, ada yang langsung ngebayangin lembutnya, ada yang langsung ngebayangin manisnya, tapi ada juga yang bengong karena gak ngerti itu jenis makanan apaan.

Bolu Meranti sejarahnya sih gue gak begitu paham ya, gue Cuma tau bahwa bolu meranti ini adalah sebuah Home Industry. Yup, produksinya bukan pabrik, lalu penjualannya juga di Toko milik pribadi. Gue rasa kalaupun ada Toko lain, itu yang punya saudaranya juga, atau mungkn palsu, atau ya gatau juga, haha.
Bolu meranti bisa dibilang iconic banget di medan, kalau lu ke medan lu wajib beli bolu meranti, entah itu untuk oleh-oleh atau unuk sekedar dimakan bareng keluarga atau temen. Buat yang jomblo(single) ya buat nemenin malem minggu lo aja biar agak manisan dikit lah,ehehe. BTW, Ini bukan pendapat atau kalimat ajakan dari gue ya, tapi ini adalah fakta di lapangan, bahwa kalau ke Medan ya ingetnya pasti beli Bolu Meranti. Bolunya Medan deh pokoknya.

Sebenernya apa sih yang bikin Bolu Meranti itu jadi Iconic banget?
Yang jelas dari rasa, gue bilang emang the best sih. Bolunya lembut, tapi gak gampang hancur, rasanya gak terlalu manis tapi pas di lidah, varian rasa yang ditawarkan juga beragam tapi favorit. Coklat (siapa manusia yang gak suka coklat?), Keju, Mocca,Blubery,Nanas, Stroberi, Kacang dan yang lain gue lupa. Gue udah bilang belum jenis bolunya tuh Gulung? Belum ya? hehe
Jadi Bolu Gulungnya ini juga selain punya varian rasa yang enak tadi di dalamnya, ada juga tambahan toping di atas bolunya, sesuai selera aja. Yang pasti mau pake toping atau engga, Bolu Meranti ini emang rasanya endes banget dah! Gue sih favorit yang rasa keju sama Mocca. Nah, hebatnya meskipun bukan hari libur, meskipun sudah banyak toko roti saingan, bahkan saingannya Toko Roti Artis, Bolu Meranti tetap di hati,haha. Alias tetep penuh dan ngantri buat belinya! Hebat gak tuh. Gue bahkan pernah dikasi tau kenalan gue ya, kalau Bolu Meranti Medan itu lebih enak daripada yang cabang di kota dia (gue baru tau Meranti buka cabang, hehe). Gue rasa Bolu Meranti macem Krusty Krab gitu deh,punya resep rahasia.
Jadi buat lu semua yang belum ngerasain Bolu Meranti,mending lu cepet-cepet cobain, setelah lu coba, lu pasti bakal mikir “Kenapa selama hidup gue yang fana ini, gue baru ngerasain surga kayak gini?”wkwkwk.

Buat lu yang belum punya kesempatan ke Medan, lu bisa titip beli di Jasa Titip gue yang terpercaya ini, inget ya Instagram nya @titiplahh. Atau WA aja ke admin gue di 085285829211. Dianter sampe depan rumah!
Ujung-ujungnya Promosi,ya namanya juga usaha, hehe.

See u at next postingan!

Tuesday, December 12, 2017

Tanda-Tanda Orang Rasis?

3:51 PM 1 Comments



Welcome Back to my Blog,Netizen!
Pembahasan blog gue hari ini lebih berat dari biasanya. Meskipun beberapa pembahasan di blog ini ada juga yang berat, tapi mungkin untuk kali ini lebih berat lagi (mungkin).
Gue bakal menuangkan keresahaang-sekarang n dan kegalauan gue mengenai satu kata yang sekarang lagi heboh, RASISME.
Bagi sebagian orang mungkin bakal menganggap " gue gak rasis kali," " gue mah biasa aja," Well, mungkin lu menganggap diri lu demikian, dan selamat kalau memang demikian. 
Tapi gaes, gue mau bilang kalau menurut pendapat dan pengamatan gue, sebagian dari masyarakat hari ini sedang darurat rasisme dan intoleran. Kok bisa?
Lu pernah gak denger statement, " Kalo orang Batak (gue kasi contoh frontal karena gue bersuku ini ya gaes) tuh sifatnya a,b,c,d. Kalau orang suku A tuh gini-gini, kalo orang suku B tuh biasanya gini-gini. GUe gak boleh nih nikah sama suku C, soalnya orang suku C tuh gini-gini. Gue sih gasuka yang cari pacar suku D, soalnya kata orang mereka gini-gini." dan lain sebagainya statemen yang sejenis dengan ini. Pernah? Pernah denger atau bahkan pernah ngucapin juga?
Secara kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar ya, pernyataan-pernyataan diatas adalah penyeragaman, penyamaratan. peng-generalisir sesuatu. Seperti halnya KALO lu bilang, "Semua umat Islam adalah teroris," padahal? TIDAK, sama halnya KALO lu bilang semua orang Budha tuh pembunuh, padahal "cuma" gara-gara kasus rohingya, dampaknya semua orang Budha dianggap begitu semua. Well, KALO. Sama halnya KALO lu bilang semua orang yang pakai baju kotak-kotak pendukung pak Jokowi, padahal, belum tentu juga. Yang nyiptain baju kotak-kotak juga mungkin kaga mikir kalau desain baju dia jadi alat kampanye. hehe. Sama halnya buat cewe-cewe yang bilang semua cowok tuh sama aja! wkwk
Gue pribadi pernah denger dan pernah ngucapin juga beberapa hal diatas. Dan beberapa lama kemudian, setelah gue mulai dewasa, punya pendidikan lebih baik, banyak membaca, diskusi dan banyak merenungkan juga. Gue merasa gue punya bibit rasisme dan intoleran di dalam diri gue. Sorry for that, gue tidak sedang mengeneralisir semua orang, ini adalah hasil gagasan dan perenungan gue.
Sedikit curhat, jadi gue pernah punya mantan orang suku B, lalu karena berakhirnya kurang baik maka gue mulai mengeneralisir semua cowok suku B tuh bla-bla-bla(negatif). Dan gue sempet ilfil sama semua cowok bersuku B. Tapi karena gue bukan tipe orang yang frontal, gue gak sampe ngelarang-larang temen atau saudara gue nikah atau berhubungan dengan lelaki bersuku B. Dan gue mendapati ada bberapa temen gue yang menikah dengan cowok bersuku B, bahagia dan baik-baik saja, tidak seperti anggapan gue. So? Gue salah.
Jangan menyeragamkan sesuatu yang belum tentu seragam. (What the... wkwkwk)
Gue tahu sifat manusia itu juga terbentuk dari latarbelakang dan lingkungan, dan itu juga bisa dikaitkan dengan suku (yang mana mencakup budaya, adat istiadat, lingkungan dan kebiasaan). Tapi jangan kita melupakan bahwa didikan orangtua, pendidikan formal, pendidikan agama, keimanan, hal-hal diluar itu (budaya, adat, kebiasaan suku) juga adalah faktor yang membentuk kepribadian seseorang bukan? I mean, gak semua orang suku Batak berpikir bahwa kanibalisme adalah hal yang biasa, karena pendidikan sudah membentuk pola pikir orang-orang suku Batak yang "sekolahan", ada juga agama, didikan orangtua yang juga sudah "sekolahan", dll. Jadi, jangan samakan semua. Not at all. Gak semuanya begitu.
Ya kalau buat temenan bolehlah, tapi kalau buat jadi keluarga, gue sih mikir-mikir ya.
Mungkin statemen ini juga yang sering lu denger ya, sob?
Bagi gue, menurut gue loh ya, SAMA AJA. Tapi tetep pilihan lu juga sih.
Beruntung atau sial? kita tinggal di Indonesia, dengan ribuan pulau dan ribuan suku bangsa, hidup berdampingan dengan slogan Bhineka Tunggal Ika. Indonesia bukan milik satu atau dua suku saja, bukan milik satu atau dua agama saja. Sebagai masyarakat yang tinggal dan hidup di tengah-tengah pluralisme ini, seyogyanya kita memiliki semangat Bhineka Tunggal Ika bukan? Bukan malah memupuk dan menumbuhkan benih rasisme dan intoleran.
Hal yang sangat baik yang dicontohkan oleh salah satu negarawan kita. Dia menikahkan anaknya dengan orang dari suku yang berbeda dengan dia. Bukankah ini contoh teladan yang sangat baik dari seorang negarawan? Inilah bukti toleransi dan keterbukaan. Gue juga sangat menghormati beberapa orang di sekitar gue yang menikah antar suku dan ras, kenapa? Mereka berani menerima perbedaan dan keragamaan. Salah satu contoh pemikiran terbuka.
Ibaratnya, Kalau lu tinggal di negara yang beragam etnis, suku, dan ras, kemungkinan lu berkeluarga dengan salah satu dari mereka itu sangat mungkin, entah lu sendiri yang menikah dengan mereka atau salah satu dari keluarga lu. Harus siap dan harus mau dong. Tapi kalo pola pikir kita aja masih rasis dan intoleran gitu? Gimana mau maju? gimana mau menerima? gimana bisa? Kalo seandainya orang-orang di dunia ini rasis dan intoleran, gue gak bisa membayangkan kemunduran dan keprimitifan yag akan masih terjadi di dunia ini. Ilmu pengetahuan cuma ada di Amerika dan Eropa karena ilmuwan dari sana (kebanyakan), gak ada pernikahan campuran dan manusia kekurangan pilihan pasangan hidup(wkwk), gaada penyebaran dan perkembangan fashion dan teknologi, dll wkwk. Sedih gak?
Bahkan yang lebih parah adalah  diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Mengerikan gaes!
Jadi kesimpulannya, ayok kita merubah paradigma kita yang rasis dan intoleran itu. Belajar menerima manusia sebagaimana manusia, bukan karena suku, bangsa, agamanya. Jangan dikait-kaitkan, gak semuanya begitu. Kalau memang lu gak selera dengan seseorang dalam hal percintaan, semoga alasannya bukan karena dia suku A, B, C, dll. Dan kalau lu punya temen yang berkeluarga atau pacaran dengan suku A, B, C, gausah deh ikut-ikut berpendapat SARA. Gak semuanya begitu. Kasi nasehat boleh, tapi jangan impulsif apalagi menyerang suku tertentu. Kita beruntung lahir dan tinggal di Indonesia, karena kita bisa berlatih untuk punya toleransi, keterbukaan dan keharmonisan.
Please jangan kolot jadi orang!
Salam Pluralisme 😊