Hai Teman-teman!
Apa kabar?
Menemani momen sebelum tidur kalian, gue mau melanjutkan cerita gue tentang perjalanan gue menempuh S2.
Kalau di postingan yang lalu, gue cerita gimana kegagalan saat mengikuti ujian masuk S2 di salah satu kampus negeri di Semarang, dan sedikit background gue untuk menemukan "Why".
Kali ini ceritanya gimana gue akhirnya keterima kuliah S2.
Tahun 2016, keinginan buat melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi masih ada, dan kali ini lebih matang.
Kenapa? Karena akhirnya gue sudah menemukan "Why" gue.
Proses mendaftar nggak mudah, karena kampus tujuan gue berada jauh dari tempat tinggal gue saat itu.
Gue ada di Jawa dan kampus tujuan gue di Sumatera, gue mendaftar lewat website kampus tersebut, tapi berkas-berkas yang diperlukan harus dikirim lewat pos, lebih tepatnya gue titipkan ke adek gue yang ada disana untuk dianter ke kampus tujuan gue, karena di tahun itu, dunia per online an belum seperti sekarang ya, guys! Itu adalah dunia sebelum covid menyerang.
Setelah semua berkas beres, saat ujian masuk pun tiba.
Persiapan gue masih sama, tapi kali ini entah kenapa perasaan gue lebih tenang, kayak ngerasa yakin aja gitu.
Guepun pindah ke kota Medan. Meninggalkan kehidupan gue di Jawa, mengejar impian.
Di Medan cuma ada adek gue dan om tante gue. Kesana bener-bener cuma buat kuliah, kerjaan ditinggal. Kuliah tanpa beasiswa, murni dibayarin tabungan sendiri dan orangtua.
Malam sebelum berangkat ujian, gue berdoa.
"Tuhan, kali ini aku sudah menemukan why ku, Tuhan tahu kan?
Tuhan, jika memang ini waktunya dan jalannya, aku cuma minta 1 aja, berkati perjalanan S2 ku ini supaya lulus tepat Waktu.
Tuhan, Engkau Maha Tau segalanya, jika memang menurutMu aku gak sanggup menyelesaikan ini, biarlah ujian penerimaan besok Engkau gagalkan aku."
Sebuah doa yang cukup nekat tapi tanpa paksaan. Tanpa ekspektasi. Sepenuhnya menyerahkan.
Keesokan harinya,
Ujian pun tiba, guepun berangkat ke Auditorium kampus tersebut untuk mengikuti Ujian tertulis TPA dan Bahasa Inggris.
Luar biasa, setiba disana gue gak boleh masuk karena kartu ujian tidak ada. Ternyata adek gue lupa memberikan kartu ujian yang dia terima waktu mendaftarkan gue. Dalam hati :
"Oke, Tuhan jawab doa gue, emang gue gak boleh kuliah lagi" Pesimis.
Tapi entah kenapa, ada bagian dari diri gue merasa sangat tenang, seolah ini bukan hal besar.
Setelah ratusan telpon ke adek gue, semua orang (orantua dan om tante) nelponin dia yang lagi asik tidur sampe siang.
Gue memberanikan diri pergi ke penjaga di pintu masuk ruangan auditorium, izin ke penjaganya, menjelaskan dengan tenang apa yang terjadi dan menyerahkan berkas yang gue punya, sebagai bukti gue calon mahasiswa meskipun gue gak punya kartu ujian.
Ajaib!
Gue diizinkan masuk dengan rangkaian nasehat yang gue balas dengan senyum dan ucapan terimakasih.
Setelah ujian tertulis, gue harus pindah ke Gedung Fakultas gue untuk mengikuti ujian wawancara.
Dalam hati gue "Oke, gue siap menjawab semua pertanyaan Profesornya, gue yakin bisa!"
Ternyata!
Ujian wawancaranya tidak ada, gue hanya perlu menuliskan essay alasan dan motivasi gue untuk kuliah S2 disini.
Semua rangkaian ujian masuk sudah gue jalani, saatnya menerima hasil pengumuman kelulusan.
Dan guepun DITERIMA!
Gue bersyukur, kali ini rasa syukur gue ditambah dengan keyakinan.
Gue yakin perjalanan kuliah S2 ini akan bisa gue lalui dengan baik.
Mungkin gak lancar, tapi selesai sesuai janji Tuhan.
Pengaturan Tuhan atas proses yang gue lalui gue anggap sebagai jawaban atas doa gue malam sebelum ujian.
Gue belajar, kalau memang waktunya, kalau memang milik kita, kalau memang momentumnya
semua akan berjalan ke arah kita dengan effortless.
Tapi kalau belum waktunya, bukan milik kita, bukan momen kita
Berusaha mengontrol dan ngotot hanya akan menguras energi dan tidak menghasilkan apapun kecuali kekecewaan.
Kekecewaan lahir dari memaksakan sesuatu yang bukan milik kita
Kekecewaan lahir dari berharap akan sesuatu yang bukan Waktu dan momen kita.
Menurut gue, selain menemukan WHY dalam setiap keputusan atau Tindakan yang mau kita ambil, kita juga perlu belajar menerima semua pengaturan Tuhan dalam hidup kita dengan sederhana.
Sesederhana "Oh Belum waktunya, Ah Ini waktunya, Terimakasih Tuhan,"
See you on the next post!^^

No comments:
Post a Comment