Awalnya gue memutuskan untuk S2 karena gue kepengen aja, untuk urusan jurusanpun gue engga jelas, apa ya? Yang penting S2 deh! haha, sungguh sangat impulsif, khas anak usia 20an. Gue mendaftar dan mengambil jurusan Magister Sistem Informasi di sebuah kampus negeri di kota Semarang. Kenapa ambil jurusan itu? Kata nyokap biar nyambung aja sama jurusan S1 nya! Oke baik.
Singkat cerita, gue mengikuti ujian tertulis dan wawancara di kampus tersebut. Dengan keyakinan dan semangat belajar yang tinggi, dan gue juga sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian, maka guepun melaksanakan ujian di kampus tersebut. Gue udah lupa ujiannya tertulisnya apa, tapi yang paling gue inget adalah tes wawancaranya.
Suatu siang di musim kemarau di kota Semarang yang panas, gue memasuki ruangan wawancara, menurut jadwal, gue akan diwawancara oleh seorang Profesor, bapak-bapak. Pertanyaan demi pertanyaan gue jawab dengan percaya diri, sampai ada satu pertanyaan yang membuat gue susah menjawab, bahkan membuat gue merenung beberapa hari setelah wawancara itu usai. Mungkin, karena pertanyaan itu tidak bisa gue jawab dengan yakin, makanya gue gak keterima S2 di kampus tersebut. Mungkin...
Mau tau apa pertanyaannya?
Komen dulu dong! hahaha, emangnya platform sebelah!
Oke, pertanyaan yang membuat gue susah menjawab dan membuat gue cukup lama merenung, dan pada akhirnya menjadi sebuah terobosan besar buat gue untuk mulai bertransformasi (cailah...) adalah...
Apa alasan anda kuliah lagi?
Atau kalau pake Bahasa lebih singkat
"Kenapa kamu kuliah lagi?",
"Kenapa kamu ambil S2?"
Guys, sebelum kalian ngejudge gue dengan bilang "Yailah, jawab apa aja kek, jawab yang diplomatis dan formal aja, yang penting jawabannya bagus!"
Gue akan menjelaskan,
sesungguhnya gue juga menjawab dengan pola pikir yang demikian. Jawaban gue ya template jawaban diplomatis. Tapi, Profesor itu kembali mempertegas pertanyaannya.
"Iya, alasan konkretnya apa?"
Dengan senyuman ramah namun menusuk ke relung hati, beliau berkata,
"Alasan sesederhana apapun harus dapat dijelaskan, misalnya karena pengen nambah gelar di belakang nama, karena pengen naik jabatan di kerjaan, karena apa?"
Pertanyaan yang kelihatannya sederhana, namun menyentuh hati gue.
Pulang dari situ, gue bertekad mencari "Why" gue.
Ada sebuah buku yang lagi popular, judulnya Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action karya Simon Sinek, yang menjelaskan pentingnya memiliki tujuan atau alasan yang kuat di balik setiap tindakan.
Sebagai seorang anak muda berusia 20an, gue gak punya WHY, yang gue punya adalah gairah, semangat, tekad, keinginan, dan mungkin impian. Namun, itu semua tidak cukup.
Bukan berarti itu gak berguna, tapi tidak cukup untuk bisa membuat seorang manusia bertahan dan tetap konsisten dalam menjalani semua keputusan yang dia ambil. Dalam hal ini adalah keputusan gue untuk kuliah lagi.
Tanpa Why, mungkin kuliah gue hanya karena di momen itu gue lagi semangat pengen belajar hal baru, gue kepengen ketemu banyak orang baru, bahkan mungkin gue bingung mau kemana, kerja apa, melakukan apa maka gue kepengen membuat diri gue "produktif elegan" dengan menjadi mahasiswa S2, hahaha.
Intinya, Tuhan seperti mengingatkan gue "Tanpa Why, keputusan kamu untuk S2 adalah keputusan yang sangat rapuh dan tidak solid, dan itu tidak cukup untuk membuat kamu bertahan mengawali dan menyelesaikan rangkaian perjalanan S2 ini dengan baik."
Gue bersyukur, meskipun saat itu gue juga gak bener-bener tahu alasan gue gak keterima karena nilai ujian tertulis gue yang kurang atau karena tes wawancaranya, tapi gue bersyukur, karena gue masih dikasi Waktu dan kesempatan untuk menemukan Why gue.
Dan setelah gue menemukannya, gue akan cerita lagi perjalanan S2 gue di kota lain sampai akhirnya bisa lulus tepat Waktu.
So, buat teman-teman yang sedang berencana melanjutkan jenjang Pendidikan atau bahkan punya rencana atau mau mengambil sebuah keputusan.
Pastikan kamu punya Why nya ya!
See you on another post ^^

No comments:
Post a Comment