Search This Blog

Friday, January 30, 2026

# Opini

Nilai E



Melanjutkan cerita perjalanan gue menempuh study lanjut pascasarjana alias S2 Teknik Informatika.

Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, ada gak sih kesulitan selama menempuh kuliah S2?

Jawabannya sudah pasti, ada, banyak, tak terbayangkan!

Bukan bermaksud menakut-nakuti atau menjadi dramatis. Tapi, memangnya ada perjalanan hidup yang tanpa kesulitan?

Bukan berarti karena udah pernah kuliah S1 (yang mana adalah Pendidikan tinggi juga sih yaaa) trus S2 jadi terasa ringan dan mudah. No No..

Salah satu kesulitan yang paling memorable dalam perjalanan study gue adalah...

Dapat nilai E.

Dapat nilai C di satu mata kuliah mungkin hal biasa, tapi buat orang ambis yang merasa sudah berusaha semaksimal mungkin, nilai C juga bisa bikin depresi.

Tapi yang gue alami bukan nilai C, melainkan nilai E! 

Kenapa gue bandingin nilai C dan E?

Jujur, dosen di mata kuliah ini memang unik, aneh bin Ajaib.

Satu kelas, literally satu kelas (kecuali beberapa mahasiswa cowo menurut desas desus, dapat nilai B), selebihnya harus berpuas diri dengan nilai C.

Tapi gue, E ? What?!

Gue adalah orang yang terbiasa memendam perasaan, mungkin sifat bawaan, pengaruh lingkungan, atau karena emang gue milenial aja sih, yang terbiasa ditabok sama boomer kalau speak up, dianggep gak sopan. 

Punten, izin, gak semua boomer kok, ehe ehe...

Tapi kejadian ini sungguh gak bisa dipendam dan didiamkan begitu saja. Meskipun satu kelas juga emang berencana ngulang mata kuliah ini bersama, dan gue juga bisa ngulang sih untuk memperbaiki nilai.

Tapi energi kota Medan yang vibesnya "Ramaikan aja dulu wak, perkara salah benar belakangan!" menggugah gue!

Dengan berbekal doa, gue memberanikan diri pagi-pagi mendatangi ruangan dosen tersebut. Gue gak tau ya dosen ini emang lagi badmood pagi-pagi atau memang sifatnya demikian. Waktu gue berpapasan dengan sang Dosen di Lobby sebelum masuk ke ruangannya, beliau ini udah langsung bintang 1 alias tidak ramah.

"Selamat pagi, Ibu, Maaf mengganggu waktunya, apa berkenan untuk saya berdiskusi dengan ibu?"

Jawabannya?

Lupa, gue bersyukur gue lupa, gue bersyukur otak gue mudah melupakan hal-hal yang menyakitkan, intinya dia mengizinkan gue masuk ruangan, meskipun responnya kurang menyenangkan, seolah gue mengganggu pagi nya.

Sebenernya di momen itu gue pengen nyerah aja, 

"Gak jadi aja apa yak?"

Tapi udah kepalang tanggung beb, maju terus pantang mundur.

Akhirnya gue memutuskan masuk ke ruangan beliau, itupun terdengar suara tidak ramah dari beliau ke staf-staf disekitarnya, bikin gue makin ragu buat masuk.

Tapi, kapan lagi?

Dalam nama Yesus...

Setelah gue masuk dan mengutarakan maksud kedatangan gue serta menanyakan apa ada kekurangan gue dalam mengerjakan tugas atau ujian sehingga gue mendapatkan nilai E? 

Mengingat gue hampir selalu hadir di kelas beliau dan selalu mengerjakan tugas dan ujian.

Usut punya usut ternyata Ketua Kelas gue lupa mengirimkan Ujian gue ke email beliau, Ketua kelas bilang teman yang gue titipin ujian lupa mengirim ke dia. Intinya ribet!

Tapi karena gue punya bukti di email bahwa gue udah mengerjakan dan mengirimkan ke teman dan ketua kelas, gue mencoba menjelaskan ke beliau.

Responnya Ajaib!

Gue gak akan lupa kalimat beliau, meskipun sekarang jadinya lucu sih...

"Memangnya saya sinterklas, bisa ubah nilai kamu..."

Tentu kalimat itu juga disertai kalimat-kalimat tantrum lainnya.

Yang gue gak ngerti, kenapa sinterklas? Kenapa gak penyihir? soalnya dia lebih mirip penyihir daripada sinterklas (Eh!).

Gue sempet mikir apa karena agama gue? Berbeda dengan dia yang mayoritas, jadi dia pake diksi "sinterklas"

Yasudahlah.

Setelah kejadian itu, jelas gue menangis, marah, sedih, jengkel, pengen nampol tapi masih punya kewarasan haha.

Tapi,

Satu momen juga yang gue gak akan lupa.

Waktu gue ngulang kelas dia, di suatu kesempatan di ruang kelas dia tanya (di telinga gue terdengar cukup arogan) ke para mahasiswa yang hadir,

"Siapa yang sudah mulai mengerjakan thesis?"

Dari sedikit mahasiswa yang hadir, gue salah satu yang angkat tangan.

Mungkin dia gak percaya, jadi dia tanya "Udah sampai mana kamu?"

Dengan bangga gue menjawab "Sudah selesai Seminar Proposal, bu"

Cukup kaget, dia tanya lagi "Siapa pembimbingnya?"

Dalam hati gue,

Yes, gue seneng dia nanya ini! Setelah gue sebut nama dosen Pembimbing gue, beliau terdiam.

Kenapa? Dosen Pembimbing gue terkenal berintegritas dan gak gampangan. Jadi, gue dapet kredit dari situ, artinya proses pengerjaan thesis gue gak kaleng-kaleng bro!

Dari kejadian itu gue belajar,

Menurut gue kondisi rendah itu tidak ada, direndahkan orang iya, tapi itu adalah sudut pandang orang tersebut bukan?

Dia merendahkan kita dengan alasan apapun artinya dia menganggap kita rendah.

Tapi sesungguhnya, posisi rendah itu sudut pandang siapa?

Dia atau kita, atau siapa lagi?

Jika orang tersebut menganggap kita rendah, apakah itu menjadikan fakta bahwa kita rendah? 

Apakah hanya karena satu atau dua orang yang merendahkan kita maka otomatis kita adalah orang yang rendah?

Apakah sebuah fakta diatur oleh orang lain?

Posisi kita bukan orang yang atur, kita rendah atau tidak adalah subyektif, bukan fakta.

Kalau orang lain menganggap gue rendah, bukankah itu urusan dia, tapi menurut gue, gue gak rendah, gue setara, bahkan kalau gue menganggap gue lebih dari dia, itu adalah sudut pandang gue, dan itu adalah dunia yang gue ciptakan.

Menurut gue, siapa diri kita sesungguhnya bukan diatur pandangan dan sikap orang lain, tapi bagaimana kita memandang diri kita sendiri.

Menurut gue sih gitu.

Gimana menurut kalian?

See you on the Next Post!

No comments:

Post a Comment